Kamis, 18 Agustus 2011

Empat Racun Hati

Empat Racun Hati
----------->>>>

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidak-jelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.

Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.

Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:
1.Banyak bicara
2.Banyak memandang
3.Banyak makan dan minum
4.Banyak bergaul dengan sembarang orang

Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.

1. Banyak Bicara
Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Banyak ayat Al Qur’an dan sabda Rasulullah serta ucapan salafush shalih yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah.

Diantaranya firman Allah,
“Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS Qaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqa berkata,
aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang paling anda takutkan terhadap
diri saya?” Beliau bersabda, “Ini.” sambil memegang lidahnya.

Dari Uqbah bin Amir berkata, “Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau bersabda, “Peliharalah lidahmu.”

Beliau bersabda pula,
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata
yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah.

2. Banyak Memandang
Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang.

Allah berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak
dari mereka.

Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera- putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara- audara mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan- elayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belummengerti tentang aurat wanita.

Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-
orang yang beriman agar kamu beruntung. (QS An-Nur: 30 – 31)

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bersabda,
Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti
melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga,
zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan,
zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah.
Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau
menggagalkan semua itu adalah kemaluan.

Dari Jarir berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, “Alihkan pandanganmu.”

Berlebihan memandang dengan mata menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mepertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:

Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.
Pandangan merupakan pintu masuk syetan
Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.
Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya.
Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya.

Allah berfirman,
Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan
hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta
urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kah: 28)

Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.

Para dokter hati (ulama) bertutur,
Antara mata dan hati ada kaitan yang sangat erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun rusak dan hancur. Hati seperti ini, ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni cinta dan ma’rifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai bersama Allah, dan tidak akan mau inabah (kembali) kepada Allah.

Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.

Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata,
Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.

3. Banyak Makan dan Minum
Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

Allah berfirman,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A’raf: 31)

Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji.

Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.

4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang
Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.

Dalam bergaul, hendaknya kita meng-klasifikasi-kan (membagi) manusia menjadi dua.
kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana.

Allah berfirman,
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.

” Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan:27 – 29)

Allah berfirman pula,
Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)

Rasulullah bersabda,
Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kurang sedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata sebagian salaf,
Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik) ia menyiakannya.

Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rizki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinar sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal ‘alamin.





Sumber : 
* Empat Racun Hati – Abdullah Shalih Al-Hadrami
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=217002755002866&set=at.217002191669589.23595.199571560079319.1831096186&type=1&theater

Mencintaimu Dalam Diam-Diam

Mencintaimu Dalam Diam-Diam




Inilah cara ku mencintai mu,
Dengan tak menghubungi mu,
Tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabar mu,
Dan bahkan sekedar chatting untuk menyapa mu,

Aku mencintai mu dengan menjauh dari mu,
Bukan karena aku membenci mu,
Namun karena aku ingin menjaga mu,
Dan menjaga diri ku sendiri dari khalwat yang menjebak,

Aku mencintai mu dengan menjaga diri ku dan diri mu,
Menjaga kesucian ku dan kesucian mu,
Menjaga kehormatan ku dan kehormatan mu,
Menjaga kebeningan hati ku dan hati mu,

Yaa..........

Beginilah cara ku mencintai mu,
Mencintai mu dalam diam ku,
Karena diam ku adalah bukti cinta ku pada mu...

Dan sekarang,
Keadaan menegur ku,
Sehingga dapat membantu menyadarkan ku dari kesalahan yang telah aku perbuat,
Meskipun pesona mu terhadap ku belum pulih,
Belum pulih...

Aku tak bisa memungkiri,
Bahwa setiap manusia pasti akan merasakan fitrahnya,
Termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis,
Maka jika harus demikian,
Untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti,

Jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya,
Ketika hati ini salah dalam pengelolaanya,
Oleh karenanya,
Jika aku harus mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia,
Maka aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan menikah dengan ku nanti,
Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,
Pasti ALLAH akan mempertemukan ku dengannya,
Sehingga usaha ku yang sia-sia akan cenderung berkurang didalam lingkup fitrah ku,
INSYA ALLAH...

Kalau saja ALLAH menjadikan aku menikah dengan seorang lelaki yang ditakdirkan ALLAH kepada ku,
Maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktu ku kepada yang lainnya,
Yang belum tentu akan menjadi suami ku kelak,
Sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain,

Dan rasa ketertarikan ku cukuplah akan aku tumpahkan kepada suami ku kelak,


Yaa ALLAH,
Sucikanlah hati ku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keridhoanMU,
Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan ketika aku berbuat salah terhadap hatiku,
Aamiin~

HIJAB/JILBAB (PERHATIAN ISLAM TERHADAP WANITA)


HIJAB (PERHATIAN ISLAM TERHADAP WANITA)


Sesungguhnya perhatian Islam terhadap wanita muslimah sangat besar dan ini pertujuan agar mereka dapat menjaga kesuciannya, serta supaya menjadi wanita yang mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dan syarat-syarat yang diwajibkan pada pakaian dan perhiasannya tidak lain adalah untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat tabarruj (berhias diri). Inipun bukan untuk mengekang kebebasannya akan tetapi sebagai pelindung baginya agar tidak tergelincir pada lumpur kehinaan atau menjadi sorotan mata. 

1. Penyebab Munculnya Hijab
Apakah sebab munculnya hijab dan filsafatnya ? Mengapa muncul ditengah-tengah sebagian kaum tempo dulu sementara pada kaum yang lain tidak? Dan atas dasar apa Islam, sebagai agama yang membangun seluruh syariatnya di atas dasar-dasar tujuan-tujuan filosofis, membangun dukungannya terhadap perkara hijab?
Orang-orang yang tidak setuju terhadap hijab berupaya mengatakan kondisi-kondisi bobroklah yang di pandang sebagai sebab munculnya hijab. Dalam hal hijab dalam Islam dan non-Islam. Mereka menyatakan hijab dalam Islam seakan-akan muncul dari kondisi-kondisi bobrok itu juga. 

Ada banyak teori tentang penyebab munculnya hijab, dan sebagian besarnya berusaha untuk menggambarkan hijab sebagai fenomena yang muncul dari kelaliman atau kebodohan, akan tetapi kita akan menyinggung keseluru hannya, Yaitu teori-teori filsafat, social, etika, ekonomi, dan psikologi. 
Kecenderungan kepada persemedian (mengucilkan diri) dan rahbaniah (landasan filosofis)
Tidak adanya jaminan keamanan dan keadilan social (landasan social)

Kepemimpinan seorang bapak dan kekuasaan laki-laki terhadap kaum wanita serta pengeksploitasian segala kemampuannya demi mendapatkan kepentingan-ke pentingan ekonomi (landasan ekonomis). 
Egoisme laki-laki dan kecintaannya pada dirinya sendiri (landasan etika)
Rutinitas bulanan yang membuat kaum wanita merasa kan adanya kekurangan dalam dirinya dibandingkan laki-laki yang sempurna penciptaannya. Ditambah lagi anggapan yang mengatakannya sebagai najis pada sa at datangnya kebiasaan bulanan dan undang-undang menakutkan yang sengaja di buat untuk menjauhinya pada hari-hari datangnya rutinitas bulanan (landasan psikologi). 
Beberapa sebab yang di nyatakan ini adakalnya tidak mempunyai pengaruh apa pun terhadap munculnya sebagai sebab-sebab tanpa argument. Dan adakalanya pula ditetapkan padanya sebagai sebab-sebab munculnya hijab bangsa-bangsa non Islam tanpa ada pengaruh apapun terhadap munculnya hijab di dunia Islam. Artinya, hal tersebut tidak terdapat dalam filsafat dan hikmah yang di jadikan landasan hijab dalam Islam. 
Perlu diperhatikan bahwa para penentang hijab terkadang menganggapnya sebagai hasil dari filsafat dan arah pandang khusus terhadap dunia dan segala kenikmatannya. Dan terkadang mereka menganggapnya mempunyai akar dan landasan-landasan politis maupun social dan terkadang mereka melihatnya di karenakan lahir dari sebab-sebab ekonomis atau etika atau psikologis. 

2. Keutamaan Hijab
Hijab itu adalah merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah. Allah SWT telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah SWT:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’ minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keteta pan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata. ” (Q. S. Al-Ahzab: 36)
Allah SWT juga memerintahkan kaum wanita untuk meng gunakan hijab sebagaimana firman Allah SWT: 
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman:“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memeli hara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. ” (Q. S An-Nur: 31)
Allah SWT berfirman :
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah. ” (Q. S. Al-Ahzab: 33)
Allah SWT berfirman:
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari bela kang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. ” (Q. S. Al-Ahzab: 53)
Allah SWT berfirman :
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke selu ruh tubuh mereka. ” (Q. S. Al-Ahzab: 59)
Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa wanita harus menutupi tubuhnya. 

3. Hijab itu ‘iffah
Allah SWT menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat). Allah SWT berfirman :
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. ” (Q. S. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghin dari dan menahan diri dari perbuatan buruk (dosa), “kare na itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka. 

4. Hijab itu kesucian
Allah SWT berfirman :
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari bela kang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. ” (Q. S. Al-Ahzab: 53)
Allah SWT menyifati hijab sebagai simbol kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Ka rena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhas rat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancur kan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah SWT ber firman : 
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit da lam hatinya. ” (Q. S. Al-Ahzab: 32)

5. Hijab itu pelindung
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakai annya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jal la telah mengoyak perlindungan rumah itu dari pada nya. ”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya. 

6. Hijab itu taqwa
Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menu runkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. ” (Q. S. Al-A’raaf: 26)

7. Hijab itu iman
Allah SWT tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman : 
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. ” (Q. S. An-Nur: 31). 
Allah SWT juga berfirman : “Dan istri-istri orang beriman. ” (Q. S. Al-Ahzab: 59)
Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau ber kata : 
“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu. ”

8. Hijab itu haya’ (rasa malu)
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu. ”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga. ”
Sabda Rasul yang lain:
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat. ”

9. Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)
Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata : 
“Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.